That's What I Like
Uncategorized

Makna Lagu Bruno Mars – That’s What I Like

admin 

Makna Lagu Bruno Mars – That’s What I Like. Dalam gemerlap dunia musik pop yang tak pernah pudar, Bruno Mars tetap menjadi ikon yang mampu menyentuh hati jutaan pendengar melalui irama ceria dan lirik yang penuh warna. Lagu “That’s What I Like” dari album 24K Magic tahun 2016 bukan hanya hits chart-topper yang mendominasi Billboard Hot 100, tapi juga sebuah narasi romantis yang dibalut kemewahan. Baru-baru ini, di tengah hiruk-pikuk akhir tahun 2025, lagu ini kembali viral di platform media sosial, terutama setelah cuplikan penampilan ulang Mars di acara penghargaan musik global memicu diskusi mendalam tentang makna di balik kata-katanya. Bukan sekadar pamer harta, lagu ini menggambarkan hasrat untuk memanjakan pasangan dengan segala yang terbaik—sebuah undangan intim ke dunia di mana cinta dan kemewahan saling melengkapi. Artikel ini akan mengupas lapisan-lapisan liriknya, dari nuansa sensual hingga pesan universal tentang hubungan yang harmonis, sambil mengaitkannya dengan relevansi kontemporer di era digital ini.

Latar Belakang Lagu That’s What I Like dan Penciptaannya

Bruno Mars, atau Peter Gene Hernandez, selalu dikenal sebagai seniman yang menggabungkan elemen funk, R&B, dan pop dengan sentuhan retro yang segar. “That’s What I Like” lahir dari sesi kreatif di studio yang dipenuhi ide-ide liar, di mana Mars berkolaborasi dengan tim Shampoo Press & Curl—termasuk Phillip Lawrence dan Christopher Brody Brown—serta produser The Stereotypes. Prosesnya dimulai dengan visi Mars yang jelas: menciptakan lagu yang merayakan “hari dalam kehidupan” penuh kemewahan, seperti menyantap udang scampi dan lobster sambil menikmati strawberry champagne. Menurut catatan di balik layar, Mars sempat ragu dan memutar ulang lagu ini selama lebih dari setahun sebelum yakin rilisnya.

Dirilis sebagai single kedua dari 24K Magic, lagu ini langsung mencuri perhatian. Tempo lambatnya sekitar 67 beat per minute dalam kunci B-flat minor menciptakan nuansa hip hop soul yang groovy, mirip produksi Neptunes era awal 2000-an. Video musiknya, disutradarai Jonathan Lia dan Mars sendiri, memadukan animasi hitam-putih dengan koreografi energik, di mana Mars tampil sebagai figur karikatur yang playful. Prestasinya tak main-main: memenangkan tiga Grammy pada 2018 untuk Song of the Year, Best R&B Song, dan Best R&B Performance. Di 2025, makna lagu ini masih sering diputar di playlist pesta virtual dan acara pernikahan, membuktikan daya tahanannya di tengah tren musik AI yang mendominasi.

Analisis Lirik That’s What I Like: Kemewahan sebagai Bahasa Cinta

Inti dari “That’s What I Like” terletak pada liriknya yang opulent dan playful, ditulis dari sudut pandang seseorang yang mencintai dirinya sendiri sebesar ia mencintai pasangannya. Lagu ini seperti daftar belanja romantis: “I got a condo in Manhattan, baby girl, what’s happenin’?” membuka pintu ke dunia jet-set, diikuti janji perjalanan ke Puerto Rico atau belanja di Paris. Baris-baris seperti “Drop some ice for the necklace” dan “Gold jewelry shinin’ so bright” bukan sekadar flexing kekayaan, tapi metafor untuk bagaimana Mars ingin “menyinari” hidup kekasihnya dengan kilauan emas—simbol kestabilan dan kegembiraan.

Lebih dalam lagi, refrain “Lucky for you, that’s what I like, that’s what I like” menekankan keselarasan selera. Mars menyiratkan bahwa apa yang ia sukai—strawberry champagne on ice, sex by the fire at night—adalah hal yang sama dengan keinginan pasangannya. Ini mencerminkan dinamika hubungan ideal: saling memahami dan memenuhi kebutuhan tanpa paksaan. Referensi halus seperti “Julio, serve that scampi” menggemakan lagu sebelumnya “Uptown Funk”, menghubungkan narasi Mars sebagai pria yang selalu siap memanjakan. Kritikus seperti Andy Gill dari The Independent menyebutnya “hedonisme yang membanggakan”, tapi justru itulah pesonanya—sebuah pengingat bahwa cinta bisa diekspresikan melalui gestur besar, bukan hanya kata-kata manis.

Nuansa sensual tak terhindarkan: baris “Go on and get to clappin'” dan “Pop it for a player” sarat innuendo, mengajak pendengar membayangkan malam penuh gairah di atas seprai sutra. Namun, ini bukan vulgaritas murahan; Mars membingkainya sebagai bagian dari komitmen, di mana kemewahan fisik dan emosional menyatu. Di era #MeToo dan diskusi tentang consent, interpretasi modern melihatnya sebagai undangan yang saling setara, di mana wanita diberdayakan untuk “dictate the pace of the night”.

Relevansi Kontemporer dan Dampak Budaya

Pada Desember 2025, “That’s What I Like” kembali menjadi topik hangat berkat tren TikTok di mana pengguna menduplikasi koreografinya dengan twist lokal, seperti versi remix dengan elemen K-pop atau Afrobeats. Di tengah inflasi global dan tekanan ekonomi, lagu ini menawarkan escapism—sebuah fantasi di mana cinta berarti akses ke yang terbaik, tanpa batas. Psikolog budaya sering mengaitkannya dengan konsep “love languages”, di mana “gifts” dan “quality time” menjadi bahasa utama Mars.

Dampaknya meluas: lagu ini menginspirasi cover dari artis seperti Sabrina Carpenter dan bahkan parodi viral yang menyindir budaya flexing di media sosial. Di Indonesia, misalnya, ia sering diputar di acara pesta akhir tahun, mencerminkan aspirasi generasi muda terhadap gaya hidup aspirasional. Meski ada kritik soal lirik yang dianggap terlalu materialistis—seperti satire dari Kendrick Lamar di “HUMBLE.”—kebanyakan pendengar melihatnya sebagai anthem positif tentang generosity dalam cinta. Data streaming menunjukkan peningkatan 20% putaran lagu ini sejak November 2025, didorong oleh playlist Spotify “Holiday Vibes”.

Kesimpulan

“That’s What I Like” adalah perpaduan sempurna antara irama yang bikin bergoyang dan lirik yang menggoda imajinasi, membuktikan bahwa Bruno Mars adalah maestro dalam merayakan cinta melalui lensa kemewahan. Di balik gemerlap perhiasan dan champagne, lagu ini menyampaikan pesan abadi: hubungan terbaik adalah saat kedua belah pihak saling memahami dan memanjakan satu sama lain. Di 2025, ketika dunia masih bergulat dengan ketidakpastian, lagu ini mengingatkan kita untuk merangkul kegembiraan sederhana—atau yang mewah—dalam bentuk apa pun. Tak heran jika ia tetap relevan, mengajak kita semua untuk bertanya: apa yang sebenarnya kita sukai dalam cinta? Bruno Mars telah menjawabnya dengan nada yang tak lekang waktu: semuanya, asal bersama orang yang tepat.

Baca Selengkapnya Hanya di…

Recommended Posts

makna-lagu-die4guy-playboy-carti
Uncategorized

Makna Lagu Die4Guy – Playboy Carti

Makna Lagu Die4Guy – Playboy Carti. Di tahun 2026, “Die4Guy” milik Playboi Carti masih menjadi salah satu lagu paling sering diputar dan paling emosional dari katalognya yang belum resmi dirilis secara penuh. Trek ini pertama kali bocor sebagai snippet berkualitas tinggi sekitar akhir 2021 dan sejak itu terus hidup di kalangan penggemar melalui leak, edit […]

admin 
makna-lagu-beaches-of-cheyenne-garth-brooks
Uncategorized

Makna Lagu Beaches of Cheyenne – Garth Brooks

Makna Lagu Beaches of Cheyenne – Garth Brooks. Beaches of Cheyenne adalah salah satu lagu paling dramatis dan penuh cerita dalam koleksi Garth Brooks. Dirilis pada tahun 1995 sebagai single dari album Fresh Horses, lagu ini langsung menjadi favorit penggemar karena narasinya yang seperti film pendek: seorang koboi rodeo yang kehilangan segalanya karena satu keputusan […]

admin 
makna-lagu-pahina-cup-of-joe
Uncategorized

Makna Lagu Pahina – Cup of Joe

Makna Lagu Pahina – Cup of Joe. Lagu “Pahina” dari Cup of Joe menjadi salah satu karya yang paling banyak dibahas dan diputar ulang dalam beberapa waktu terakhir di ranah musik OPM. Dengan irama yang lembut namun sarat emosi serta lirik yang terasa sangat pribadi, lagu ini berhasil menyentuh pendengar yang pernah mengalami akhir sebuah […]

admin 

Leave A Comment